Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Mampir Ke Al Kahf Space & Kopi Manyar Bintaro

Gambar
Assalamu'alaikum.. Rencana semalam matang, untuk janjian dengan tukang kebun membersihkan halaman rumah di Ciputat. Sudah tipenya kalau direncanakan terlalu matang, biasanya buyar. Saat konfirmasi ke mas Didik, ia setuju. Berangkat berbarengan untuk ke kantor di sabtu (seperti biasa). Dan disaat yang sama, saya senang. Hehe. Ciputat, Bintaro, Ciledug adalah tempat yang akrab sekali bagi saya. Najma dan Ludi juga lahir disini. Najma di Rumah Sakit Premier Bintaro dibantu oleh Dr. Didi Danukusumo, KFM. Sedangkan Ludi di Rumah Sakit Buah Hati dibantu oleh Dokter Mukhlis, SPOG. Tentu saja keduanya, eh bahkan ketiga anak saya lahir di Tangerang Selatan ini dan semuanya cesar :) Singkat cerita hari itu saya jadi mengantar suami kerja, sembari menunggu tukang kebun yang ternyata bisa datang siang. Saya berkeliling Bintaro, senang juga. Mengitari wilayah yang dulu sering saya datangi. Dari mulai Pasar Modern Bintaro, Lotte Mall, Plaza Bintaro, Bintaro Xchange, dan lainnya. Tapi saya punya

Libur Sekolah online 2020 (Semester I)

 Assalamu'alaikum.. Drama sekolah online sementara usai, libur semester 1 tahun ajaran 2020 akan berlangsung. Yipiiiiiiii , alhamdulillah. Sejak Maret ya ternyata kita semua, emak bapak jadi punya tugas baru untuk mendampingi anak-anak sekolah di rumah. Terhitung 9 bulan ini kita struggle , tepuk tangan! Apresiasi diri sendiri, bisa euy ternyata. Hehehe. Cucian piring, baju, setrikaan, masak, belum lagi nyapu ngepel rumah. Berbarengan dengan tugas anak. Kita, Masya Allah hebat :) Menyadari emosi saya yang kaya ayunan, naik dan turun. Juga menyadari saya tidak punya asisten yang stand by . Menyadari equipment di rumah juga tidak maksimal. Sejak hari pertama menerima kabar anak sekolah di rumah, anehnya saya happy . Tidak ada beban berarti, karena buat saya memang anak-anak biasa saya pegang sendiri. Najma tidak les untuk pelajaran sekolah, hingga memang saya sudah jadi guru dari dulu. Ludi yang anak kinestetik murni, artinya dia opposite -nya Najma untuk gaya belajar. Membuat say

15 Desember 2020 - A Moment -

Assalamu'alaikum.. 15 Desember 2020 nih , 16 hari lagi berganti tahun. Pandemi Covid-19 di negeri sendiri masih belum menunjukan penurunan, vaksin yang akan disebar di seluruh dunia konon akan bertahap, 3 M masih berlaku, masih sering dirumah. Untuk saya pribadi ruang lingkup masih di rumah komplek LIPI dan rumah orang tua KRR. Dengan sederet protokol yang usaha banget untuk dilakukan, pasrah dan berdoa selalu diurutan pertama. Takutnya malah jadi jumawa sendiri dengan segala kerepotan itu, tapi malah lupa sama hal penting bernama Tawakal :) Sejujurnya beberapa minggu ini energi saya seperti terserap ke bawah bumi, kaya keseret dengan gaya gravitasi. Iya, apalagi kalau bukan karena di lingkar teman sendiri sudah ada yang terinfeksi dan berita duka kehilangan atas kepulangan selama-lamanya dari orang yang tidak asing bagi hidup saya. Meski, yakin banget sudah jalannya. Tapi ada kenangan yang tertinggal di memori dari nama-nama orang yang berpulang duluan itu. Ini semua mengajarkan s

Haruskah anak kita menjadi Choi Taek? #Reply1988

Gambar
 Assalamu'alaikum .. Telat sekali nonton drama ini, 2015 padahal dia udah tayang. Saya baru nonton di 2020 akhir. Tapi malah jadi jatuh cinta sekali dengan cerita dan semua tokohnya. Aneh sih di sebuah drama tidak ada sama tokoh jahat. Sempat buruk sangka ke Sung Bora karena ya ampun, galak banget. Sama orang tua berani teriak-teriak. Tapi ternyata ada begitu dia begitu. Ada tokoh yang sejak muncul karena saya penasaran dan tidak menyesal jadi tim-nya sejak awal. Drama ini berhasil membelah dua massa. Yup , #timJunghwan VS #timTaek ramai jadi tagar di dunia maya kala itu, bahkan sampai sekarang. Tapi tentu tanpa ragu saya dengan bangga menjadi #timTaek dong . Choi Taek yang anak tunggal, ibunya sudah meninggal saat ia kecil, bapaknya yang hampir saja jadi orang 'tidak berguna' di kampung akibat kesedihan mendalam ditinggal istri tercinta. Anak bapak hidup ini berubah sejak memutuskan pindah ke Seoul dan menetap di Gang Ssamundong. Anak yang ternyata jenius ini punya bany

Ga suka kita? Ya tidak apa :)

 Assalamu'alaikum.. Sebaik-baiknya perlakuan, akhlak, tutur kata dan perbuatan kita adalah hal yang mustahil jika kita mengharap semua orang setuju dan akhirnya menyukai kita. Dengan kesadaran seperti itu, akhirnya kita punya pakem yang jelas tentang kehidupan sosial kita yang tanpa transaksi. Alias santai dan tulus :) Menyedihkan kalau melihat saya yang dahulu ( eh gimana?) iyaa dulu kan masih belajar ya, jadi sering sekali salah persepsi. Untuk hubungan sosial pun tanpa saya sadari, saya sedikit pamrih. Bukan dalam artian menghasilkan uang atau logam mulia (hehehe). Tapi saya berharap kembalian dari perbuatan (yang saya pikir) baik. Sering kecewa akhirnya. Baper. Dan akhirnya makan hati. Parahnya lagi bawaanya su'udzhon . Sempit sekali hati ini saat itu. Ga mau lagi :) Saat memutuskan untuk berani keluar rumah, artinya saya siap berhadapan dengan ragam karakter, pemikiran, bahkan berhadapan dengan ragam physical appearance . Ya karena memang sebanyak itu warna dalam hidup,

Beneran Jadi Korban?

 Assalamu'alaikum Well, pernah takut ga ketemu orang? bukan takut dalam artian 'takut' sebenarnya. Tapi lebih ke takut karena ga mau ketemu, karena tau dianya kaya gimana, karena males aja. Jadi takut yang seperti itu artinya. Pernah punya? Saya punya nih. Punya rasa takut yang demikian definisinya. Hidup memang akan mengajari kita, dengan pahit dan manis bergantian. Termasuk juga akan mempertemukan kita dengan orang yang kita mau jumpa maupun tidak mau dijumpa. Kita akan menemukan bahwa ada lho rasa nyaman dan tidak nyaman saat harus berinteraksi dengan orang lain. Dan entah bagaimana, secara otomatis otak kita memproses semua dan menyimpulkan, apakah orang tersebut cukup bisa kita terima. Dengan segala simpanan memori informasi mengenai banyak manusia yang pernah kita jumpa. Kita membandingkan, menimbang dan merasa. Sejujurnya, saya takut pada salah satu jenis manusia. Saya takut berjumpa dengan orang-orang yang suka menjadikan dirinya korban, dalam bahasa lain ' play

Masuk Rumah Sakit Saat Pandemi Covid-19

 Assalamu'alaikum Horror ga tuh judulnya? Siapa yang mau hayo? Ga ada sih, yakin saya. Tapi kalau memang kenyataan harus berangkat karena emang harus, bagaimana coba? Tapi hampir semua ketakutan itu sebenarnya tidak nyata, dia adalah hasil dari pemikiran yang dibuat, parahnya jika tidak mendapat data dan fakta untuk jadi bahan komparasi, bisa jadi ke- horror -an bisa jadi nyata, parahnya bisa mendorong kepada keputusan tidak tepat. Bingung ga? Intinya kalau sampai ketakutan itu menguasai, maka selanjutnya pasti tidak tepat keputusan yang diambil :) Orang yang paling saya kasihi sudah sakit sejak lama. Bukan sakit sembarangan. Ini berhubungan dengan organ tubuh inti yang fungsinya primer. Vonis dari yang mulai "insyAllah bisa sembuh" sampai "baiklah, u have only 1 years left " sudah pernah kami dengar. Tapi kan umur kuasa Allah dan kita harus mempercayai teguh demikian. Kebayang kan separah apa sih, sampai vonis kedua itu harus meluncur dari mulut dokter spesial

Oktober ini, dan masih -sedang ada- Covid 19

 Assalamu'alaikum... Terhitung 2019 Februari sama sekali tidak menulis di blog. Bukan karena ga ada ide, tapi Instagram luar biasa mengambil alih perhatian saya untuk urusan eksistensi di dunia maya ini. Akan tetapi belakangan mulai menyadari, menulis panjang tetap lebih nyaman di Blog. Lebih bebas, karena di platform ini sejujurnya saya lebih bebas dan tanpa ekspektasi. Maret pertengahan 2020, Najma dan Ludi terakhir datang ke sekolah dan berangkat les menggambar di Kanvas Ilmu. Untuk kemudian ahad malam 2 hari kemudian, datang pemberitahuan soal dihentikan sementaranya Sekolah sebab ada wabah yang berbahaya. Pasti semua masih ingat, suasana awal pandemi ini. Dimana masack  lockdown  atau isolasi wilayah ini cukup membuat kegiatan manusia terhenti. Jalanan sepi, pedagang pinggir jalan sedikit sekali, cafe dan restoran tutup, armada umum juga ojek online berhenti operasi. Suasananya sukses membangkitkan imaji soal beginilah keadaan saat Train to Busan berlangsung (where the Zom