Postingan

Haruskah anak kita menjadi Choi Taek? #Reply1988

Gambar
 Assalamu'alaikum .. Telat sekali nonton drama ini, 2015 padahal dia udah tayang. Saya baru nonton di 2020 akhir. Tapi malah jadi jatuh cinta sekali dengan cerita dan semua tokohnya. Aneh sih di sebuah drama tidak ada sama tokoh jahat. Sempat buruk sangka ke Sung Bora karena ya ampun, galak banget. Sama orang tua berani teriak-teriak. Tapi ternyata ada begitu dia begitu. Ada tokoh yang sejak muncul karena saya penasaran dan tidak menyesal jadi tim-nya sejak awal. Drama ini berhasil membelah dua massa. Yup , #timJunghwan VS #timTaek ramai jadi tagar di dunia maya kala itu, bahkan sampai sekarang. Tapi tentu tanpa ragu saya dengan bangga menjadi #timTaek dong . Choi Taek yang anak tunggal, ibunya sudah meninggal saat ia kecil, bapaknya yang hampir saja jadi orang 'tidak berguna' di kampung akibat kesedihan mendalam ditinggal istri tercinta. Anak bapak hidup ini berubah sejak memutuskan pindah ke Seoul dan menetap di Gang Ssamundong. Anak yang ternyata jenius ini punya bany...

Ga suka kita? Ya tidak apa :)

 Assalamu'alaikum.. Sebaik-baiknya perlakuan, akhlak, tutur kata dan perbuatan kita adalah hal yang mustahil jika kita mengharap semua orang setuju dan akhirnya menyukai kita. Dengan kesadaran seperti itu, akhirnya kita punya pakem yang jelas tentang kehidupan sosial kita yang tanpa transaksi. Alias santai dan tulus :) Menyedihkan kalau melihat saya yang dahulu ( eh gimana?) iyaa dulu kan masih belajar ya, jadi sering sekali salah persepsi. Untuk hubungan sosial pun tanpa saya sadari, saya sedikit pamrih. Bukan dalam artian menghasilkan uang atau logam mulia (hehehe). Tapi saya berharap kembalian dari perbuatan (yang saya pikir) baik. Sering kecewa akhirnya. Baper. Dan akhirnya makan hati. Parahnya lagi bawaanya su'udzhon . Sempit sekali hati ini saat itu. Ga mau lagi :) Saat memutuskan untuk berani keluar rumah, artinya saya siap berhadapan dengan ragam karakter, pemikiran, bahkan berhadapan dengan ragam physical appearance . Ya karena memang sebanyak itu warna dalam hidup, ...

Beneran Jadi Korban?

 Assalamu'alaikum Well, pernah takut ga ketemu orang? bukan takut dalam artian 'takut' sebenarnya. Tapi lebih ke takut karena ga mau ketemu, karena tau dianya kaya gimana, karena males aja. Jadi takut yang seperti itu artinya. Pernah punya? Saya punya nih. Punya rasa takut yang demikian definisinya. Hidup memang akan mengajari kita, dengan pahit dan manis bergantian. Termasuk juga akan mempertemukan kita dengan orang yang kita mau jumpa maupun tidak mau dijumpa. Kita akan menemukan bahwa ada lho rasa nyaman dan tidak nyaman saat harus berinteraksi dengan orang lain. Dan entah bagaimana, secara otomatis otak kita memproses semua dan menyimpulkan, apakah orang tersebut cukup bisa kita terima. Dengan segala simpanan memori informasi mengenai banyak manusia yang pernah kita jumpa. Kita membandingkan, menimbang dan merasa. Sejujurnya, saya takut pada salah satu jenis manusia. Saya takut berjumpa dengan orang-orang yang suka menjadikan dirinya korban, dalam bahasa lain ' play...

Masuk Rumah Sakit Saat Pandemi Covid-19

 Assalamu'alaikum Horror ga tuh judulnya? Siapa yang mau hayo? Ga ada sih, yakin saya. Tapi kalau memang kenyataan harus berangkat karena emang harus, bagaimana coba? Tapi hampir semua ketakutan itu sebenarnya tidak nyata, dia adalah hasil dari pemikiran yang dibuat, parahnya jika tidak mendapat data dan fakta untuk jadi bahan komparasi, bisa jadi ke- horror -an bisa jadi nyata, parahnya bisa mendorong kepada keputusan tidak tepat. Bingung ga? Intinya kalau sampai ketakutan itu menguasai, maka selanjutnya pasti tidak tepat keputusan yang diambil :) Orang yang paling saya kasihi sudah sakit sejak lama. Bukan sakit sembarangan. Ini berhubungan dengan organ tubuh inti yang fungsinya primer. Vonis dari yang mulai "insyAllah bisa sembuh" sampai "baiklah, u have only 1 years left " sudah pernah kami dengar. Tapi kan umur kuasa Allah dan kita harus mempercayai teguh demikian. Kebayang kan separah apa sih, sampai vonis kedua itu harus meluncur dari mulut dokter spesial...

Oktober ini, dan masih -sedang ada- Covid 19

 Assalamu'alaikum... Terhitung 2019 Februari sama sekali tidak menulis di blog. Bukan karena ga ada ide, tapi Instagram luar biasa mengambil alih perhatian saya untuk urusan eksistensi di dunia maya ini. Akan tetapi belakangan mulai menyadari, menulis panjang tetap lebih nyaman di Blog. Lebih bebas, karena di platform ini sejujurnya saya lebih bebas dan tanpa ekspektasi. Maret pertengahan 2020, Najma dan Ludi terakhir datang ke sekolah dan berangkat les menggambar di Kanvas Ilmu. Untuk kemudian ahad malam 2 hari kemudian, datang pemberitahuan soal dihentikan sementaranya Sekolah sebab ada wabah yang berbahaya. Pasti semua masih ingat, suasana awal pandemi ini. Dimana masack  lockdown  atau isolasi wilayah ini cukup membuat kegiatan manusia terhenti. Jalanan sepi, pedagang pinggir jalan sedikit sekali, cafe dan restoran tutup, armada umum juga ojek online berhenti operasi. Suasananya sukses membangkitkan imaji soal beginilah keadaan saat Train to Busan berlangsung (whe...

Februari ke-30 thank you!

Assalamu'alaikum Wr. Wb Saat menulis ini secara resmi tanggalan adalah 25 juni 2019, dan judul utama blog hari ini adalah Februari ke-30, ga ada sangkut paut. Hanya ingin menulis sedikit memori dan rasa syukur setelah akhirnya punya angka depan yang baru. Se-excited itu? Iyaaa.. nanti di bawah saya cerita ya guys :) Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan bertambah usia. Bisa "nyicipin" nikmat dunia sekaligus segala huru-haranya. Dan masih ada kesempatan memperbaiki diri. Karena percaya kan, banyak orang di sekeliling kita sudah pulang duluan. Dan itu cukup menjadi bukti bahwa suatu saat waktu kita hidup akan berhenti. Gitu kan ya? Di masa menjadi istri ini saya cukup dekat dengan Kakak ipar saya, sangat dekat malah. Banyak cerita kita bagi, sedih atau senang. Banyak momen terutama di perjalanan rumah tangga saya yang selalu ditemani oleh Kakak ipar saya (kakak perempuan). Darisitu saya banyak mendapat pelajaran tentang hidup dan orientasi berpikir saya berubah, ...

Februari yang ke-29

Gambar
Assalamu'alaikum Wr.Wb Woooow, Alhamdulillah Masya Allah sudah dikasih oleh Allah kesempatan menikmati keindahan dunia selama ini. Bertemu kembali bulan Februari. Dan yang sekarang, sudah ke 29. Ini seru. Sebab saya selalu menanti rasanya saya menikmati usia dengan angka depan yang baru. Semoga saya panjang umur ya. Di usia 28 tahun kemarin. Secara personality saya tidak terlalu banyak berubah, masih menjadi Saidah yang dulu. Tapi ada banyak pelajaran hidup yang saya dapat. Entah dari keluarga atau teman dekat. Tentang anak-anak. Alhamdulillah Najma dan Ludi suka berantem lucu gitu :D. Soalnya sudah pandai ngomong dua-duanya. Pandai argumentasi, pandai punya aturan sendiri dan banyak kepandaian lainnya. Di usia 5 tahun, Najma sudah pandai membaca dan menulis. Najma bisa menulis surat kepada saya jika dia sedang marah atau bahagia. Lucu sih. Kalau Ludi kemampuan fisiknya pesat sekali. Anak lelaki memang kecerdasan kinestetik lebih duluan berkembang ya di banding anak perempu...